Menggerakkan “Mesin” Dakwah
Oleh Syah Reza - Peneliti
AFSIC (Aceh Forum for the Study of Islamic Civilization)- Banda Aceh.
Dakwah
tidak hanya dimaknai sebagai sebuah semangat dan teori, tapi lebih dari itu
yaitu pergerakan. Karena pergerakan adalah substansi dari makna hidup, maka ia
harus senantiasa mewarnai ruh semangat kita. Matahari bergerak mengitari bumi,
pohon bergerak dari benih hingga tumbuh besar, hewan bergerak memenuhi
kebutuhan hidupnya, dan manusia harus senantiasa bergerak untuk melangsungkan
kehidupannya.
Maka
manusia yang tidak bergerak melakukan perbuatan-perbuatan yang kontributif sama
halnya dengan orang mati. Ketika mati hanya tinggal kenangan sepintas, lalu
terlupakan. Karenanya pergerakan adalah sunnatullah yang harus terus dipelihara
dan diperagakan dalam melanjutkan sebuah cita-cita peradaban.
Imam Bukhari tentu
tidak akan dikenal sebagai imam Hadist jika ia tidak bergerak serius, dengan
perjuangan yang kuat dalam melintasi padang pasir panas menyengat ubun-ubun
hanya untuk mendapatkan sepotong hadist.
Imam
Al-Ghazali tidak mungkin mampu melahirkan karya-karya hebat seperti ihya
ulumuddinjika pikiran dan hatinya tidak digerakkan secara
beriringan dan disertai kesabaran yang besar. Imam Hassan Al-Banna tidak
mungkin mampu mendirikan gerakan Islam Ikhwanul Muslimin jika potensi akal,
indera dan keyakinan yang dimilikinya tidak dimanfaatkan secara cerdas dan
komprehensif dalam menyelami luasnya konsep Islam dan sirah Rasulullah
Saw.
Begitu
juga dengan para salafusalih yang punya semangat yang besar dalam meberikan
kontribusi untuk Islam. Gerak itu sebuah keniscayaan dan harus terus berputar. Tidak
ada tanda lampu merah, waktu luang dan kata lelah disana. Mesin semangat
harus terus dihidupkan, agar dakwah bisa berjalan secara terus menerus dan
berjalan menuju tujuan. Biarkan ‘waktu’ dengan sendirinya yang mengingatkan
kita untuk berhenti dan menyudahi gerak di dunia ini.
Kesuksesan
para sahabat dan ulama menyiarkan Islam seperti di atas tentu dengan pergerakan
yang rapi. Mereka tidak melakukan sebuah pergerakan dakwah semaunya. Mereka
mengatur gerak sebaik mungkin dengan didasari pada bekal keyakinan yang kuat
dan pemahaman keislaman yang syumul. Ketauladanan dan keikhlasan berkorban,
ketundukan dan pengorbanan, dan Juga disertai dengan cara dan konsep yangahsan dan
tepat.
Sebagaimana
Firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah(Tegas dan Benar) dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AN-Nahl [16]: 125)
Dengan cara yang baik tentu objek dakwah akan merasa Islam memberi
sebuah etika dan penghargaan dalam mengajak kepada kebenaran. Seperti yang
telah dipraktekkan Rasulullah Saw., para Sahabat, Tabi’in dan para
salafussalih.
Lalu bayangkan jika cara dan praktik dakwah kita dengan penampilan
kumuh, bahasa yang kasar dan menggurui, wajah yang sangar atau “pelit senyum”,
dan bukan membimbing tapi menghakimi, maka wajar saja banyak orang menjauh dari
Islam, yang seharusnya kandungan ajaran Islam tidak demikian. Akhirnya, tanpa
disadari sebenarnya kehadiran kita hanya menghalangi orang untuk mendapatkan
petunjuk Allah.
Pergerakan dakwah
harus dalam khittah yang
benar dan terstruktur. Metode yang melepaskan fiqh Ad-Dakwah dan
melupakan mara’aji’ (referensi)
akan membuat dakwah tidak memiliki hikmah, yang ada hanya kelelahan.
Karenanya,
Da’i itu tidak dibentuk dengan asal-asalan. Ia harus punya bekal spiritual yang
mantap, cinta pada ilmu, memiliki pemahaman Islam yangshahih dan shalih,
cerdas dan terampil memaknai kondisi, dan mampu menempatkan sesuatu perkara
secara proporsional dan professional. Jika ini diperhatikan maka InsyaAllah
dakwah dengan sendirinya akan berjaya, tanpa sulit-sulit memaksa orang untuk
mengakui eksistensi kita atau sekedar mendukung pergerakan kita. Dan secara
otomatis fikr al-islamii dapat
tersampaikan dan esensi Islam sebagai rahmatan lil’alamindapat
terwujud.

Posting Komentar untuk "Menggerakkan “Mesin” Dakwah"