Resume Hasil Diskusi: Pemetaan Ilmu dalam Tradisi Islam dan Barat
Resume diskusi-1 malam minggu Afsic
"Pemetaan ilmu dalam tradisi Islam dan Barat"
Bersama bang Fiqi Risalah, MA
"Pemetaan ilmu dalam tradisi Islam dan Barat"
Bersama bang Fiqi Risalah, MA
Disaat hiruk pikuk malam minggu sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu utk istirahat weekend, sebuah lembaga yg concern menciptakan budaya ilmu (Afsic) malah sengaja membuat diskusi santai dengan fokus penguatan fondasi berfikir dan cara pandang muslim. Karena hal tsb sangat penting menurut kita dri semua persoalan umat saat ini.
Ya, memang Afsic bukan lembaga respon terhadap isu-isu media yg terkait dgn wacana sosial-politik secara praktis, tetapi kita lebih mempelajari sisi ontologis dari setiap persoalan umat yg sudah terjangkit berbagai macam virus budaya, pemikiran, dan keilmuan. Disamping tugas kita memperkenalkan kembali bangunan konsep islam yg sudah dirusak dan dikaburkan oleh nilai-nilai peradaban lain. Maka, wajah diskusi Afsic ini sbenarnya lebih kepada respon dan analisis menggunakan pendekatan keilmuan, logika, mempelajari sebab-akibat dengan instrumen wahyu yg berjalan beriringan dengan potensi akal. Dua sumber kebenaran yg dimiliki islam ini sudah seharusnya dilibatkan utk membaca realitas secara seimbang tanpa ada ketimpangan salah satunya.
Diskusi malam minggu (26/7/2015) kita mengundang Phd candidate UTM Malaysia yg sedang menyelesaikan disertasi, almukarram bang Fiqi Averadi, MA, calon pemikir muda islam yg memiliki dedikasi tinggi dalam ilmu, murid dari prof. S.M.N. Al-Attas dan Prof. Wan M. Wan Daud. Ada satu kutipan menarik dari beliau mengawali diskusi, " ilmu itu nur (cahaya) yg berasal dari Tuhan, maka saat diberikan Tuhan kepada manusia bukan seperti air mengalir yg mudah kita peroleh, tetapi seperti tetesan air yg menetes 1 per satu disaat proses berfikir (tafakkur) dengan perenungan mendalam (tadzakkur) terjadi."
~Dialektika ilmu antara 2 peradaban~
Beliau memulai dengan sejarah fase peradaban yg Barat mengistilahkan medieval period sebagai masa pertengahan, yaitu masa kegelapan. Barat sengaja menutupi kenyataan bahwa peradaban Islam sedang berada pada puncak kemajuan ilmu. Al-Kindi melakukan penerjemahan semua karya-karya dari Yunani dan peradaban lain ke dalam bahasa Arab dengan bantuan Hunain ibn Ishaq dkk utk memudahkan para ilmuan meneliti. Karya-karya tersebut setelah diterjemahkan, kemudian diadapsi (adapted) sesuai dengan worldview Islam baik dari konsep, terminologi dan bahasa.
Beliau memulai dengan sejarah fase peradaban yg Barat mengistilahkan medieval period sebagai masa pertengahan, yaitu masa kegelapan. Barat sengaja menutupi kenyataan bahwa peradaban Islam sedang berada pada puncak kemajuan ilmu. Al-Kindi melakukan penerjemahan semua karya-karya dari Yunani dan peradaban lain ke dalam bahasa Arab dengan bantuan Hunain ibn Ishaq dkk utk memudahkan para ilmuan meneliti. Karya-karya tersebut setelah diterjemahkan, kemudian diadapsi (adapted) sesuai dengan worldview Islam baik dari konsep, terminologi dan bahasa.
Dinasti abbasiyah mencurahkan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu menjadi "makanan" bagi para intelek. Akhirnya melahirkan banyak ulama muslim yg polymathe (pakar semua bidang) krn mengetahui sistem ilmu dalam islam, dimana ilmu fardhu ain (ilmu ushuluddin) dijadikan fondasi utama yg dipelajari secara terus menerus tanpa mengenal usia sehingga menjadi landasan bagi pengembangan ilmu fardhu kifayah (muamalah dan sains). Ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah adalah klasifikasi ilmu yg saling terkait, integral dan tidak dikotomis. Peneiladan lebih lanjut mengenai formulasi klasifikasi ilmu ini bisa di telusuri dalam karya alfarabi dan imam alghazali.
Keruntuhan peradaban islam ditangan mongol dimulainya masa renaissance dalam dunia Barat. Semua karya dari ulama muslim diadopsi, disesuaikan dgn framework Barat yg rasionalis-empiris. Rasional empiris adalah wajah filsafat barat. Barat mengalami kemajuan dalam dunia empiris (tekhnologi) dan filsafat rasionalis tak lepas dari kontribusi peradaban islam. Hal ini diakui oleh Francis Bacon, bahwa peradaban barat sangat berjasa pada ilmuan muslim.
Yunani-islam-Barat. Inilah 3 periode peradaban yg pernah bergulir dalam yg memiliki sistem pemikiran, cara pandang dan identitas keilmuan yg berbeda, bahkan bertolak belakang. Yunani; Pure worldview (natural sains), islam; islamic worldview (wahyu-Rasio) dan Barat modern; secular worldview (rasionalis empiris).
~Ilmu menurut islam dan Barat~
Ilmu adalah sampainya makna (wushul alma'na) dari objek kepada subjek. Makna itu melampaui definisi logika. Karena ada penglibatan berfikir dan penerungan yg mendalam ttg suatu realitas yg kemudian mendapatkan makna. Memahami ilmu adalah proses menemukan makna. Makna diberi oleh empunya makna (Allah) kepada manusia dengan penglibatan 4 unsur. Indra, akal, intuisi dan wahyu.
Ilmu adalah sampainya makna (wushul alma'na) dari objek kepada subjek. Makna itu melampaui definisi logika. Karena ada penglibatan berfikir dan penerungan yg mendalam ttg suatu realitas yg kemudian mendapatkan makna. Memahami ilmu adalah proses menemukan makna. Makna diberi oleh empunya makna (Allah) kepada manusia dengan penglibatan 4 unsur. Indra, akal, intuisi dan wahyu.
Ilmu dalam islam terbatas dengan karakter muhkamat (tetap) dan mutaghayyirat (berubah-ubah), sedangkan barat memahami ilmu (kebenaran) itu berubah ubah. Bang fiqi menganalogikan, "ilmu menurut barat tiada habis diatas langit ada langit, diatas langit ada langit lagi dseterusnya tanpa selesai." Karena sumber dan ukuran kebenaran bagi barat adalah akal. Akal menjadi hakim dalam memahami setiap realitas kebenaran. Ini berbeda dengan islam yg memahami ilmu ada batasnya, karena potensi utama ilmu yaitu akal memiliki batas, maka yg diperoleh dari hasil berfikir juga terbatas. Yg tidak terbatas adalah ilmu Tuhan. Ilmu adalah given (pemberian) bukan didapat hanya dari silogisme rasio. Ilmu dalam islam dapat diraih dan kebenaran pasti karena ada wahyu yg kebenarannya pasti, sedangkan barat memahami ilmu itu selalu berubah ubah karena berdasarkan pengalam hidup,berfikir dan tidak mempercayai wahyu.
Sumber ilmu dalam islam yaitu Wahyu, akal, panca indra dan intuisi. Sedangkan barat hanya menggunakan akal dan empiris. Ini yg membuat cara memahami realitas dan kebenaran sangat berbeda, ini berdampak pada hasil yg diperoleh dri ilmu, keilmuan Barat bersifat dikotomis, sedang islam integral.
Kebenaran yg merupakan identitas ilmu, bagi barat apa yg fakta itulah kebenaran. Fakta dalam perfektif barat adl bukti empiris yg bisa dilihat dipegang oleh panca indra. Setiap fakta adalah kebenaran. Ini ukuran kebenaran bagi barat. Sedangkan islam mengkritik konsep tsb. Tidak semua fakta adalah kebenaran.
~Hubungan filsafat dan agama~
Filsafat berjalan beriringan dengan agama, sekalipun memiliki ruang lingkup dan entitas yg berbeda, tetapi keduanya berjalan bersamaan. Melepaskan agama dalam filsafat maka islam tidak berbeda dengan filsafat barat yg sekuler dimana agama dideskreditian dari persoalan dunia. Penjelasan lebih lanjut ttg ini bisa ditemukan dalam pandangan alkindi, ibn rusyd, imam alghazali dan karya2 filosof muslim lain.
Filsafat berjalan beriringan dengan agama, sekalipun memiliki ruang lingkup dan entitas yg berbeda, tetapi keduanya berjalan bersamaan. Melepaskan agama dalam filsafat maka islam tidak berbeda dengan filsafat barat yg sekuler dimana agama dideskreditian dari persoalan dunia. Penjelasan lebih lanjut ttg ini bisa ditemukan dalam pandangan alkindi, ibn rusyd, imam alghazali dan karya2 filosof muslim lain.
* Ini sedikit resume dari hasil diskusi tadi malam tentang "pemetaan ilmu dalam tradisi islam dan Barat." Tentu masih banyak yg belum terangkum dalam resume tsb. Semoga bermanfaat. InsyaAllah akan diposting di web Afsic dalam fromat yg lebih sempurna.

Posting Komentar untuk "Resume Hasil Diskusi: Pemetaan Ilmu dalam Tradisi Islam dan Barat"